Lynx merasa lega dan gembira saat mendengar kabar bahwa orang-orang kepercayaannya ternyata telah ditemukan. Dengan ini, menemukan petunjuk keberadaan Suku Surya hanyalah masalah waktu.

"Lala, terus terang saja, awalnya aku memang ingin membangun organisasi seperti ini untuk membantuku menemukan kalian. Syukurlah, Kael sudah mendahuluiku," kata Lynx dengan nada penuh kelegaan.

"Lalu, apakah Kael dan Arkha juga punya nama lain yang mereka gunakan selama berada di dunia ini?" tanya Jelita penasaran.

"Mereka tidak memiliki nama lain. Karena jarang berinteraksi dengan penduduk biasa dan selalu bergerak dalam bayang-bayang, mereka tidak perlu menyamar dengan nama baru. Namun, untuk menjalankan tugas mereka, biasanya mereka menggunakan berbagai identitas saat mengumpulkan informasi," jelas Lala.

Lynx kemudian mengeluarkan sebuah benda dari cincin penyimpanannya dan menyerahkannya kepada Lala.

"Apa ini, Lynx?" tanya Lala sambil menerima benda tersebut.

"Aku yakin ini milik ayahmu. Aku menemukannya di antara barang peninggalan leluhur Monrest," jawab Lynx.

"Leluhur Monrest? Bagaimana bisa? Mungkinkah ini..." Lala tidak melanjutkan kata-katanya. Dia menatap mesin di tangannya dengan penuh keterkejutan. Mesin tersebut terbuat dari besi baja langka yang didesain khusus untuk mampu menahan getaran berbagai goncangan dan tekanan. Mesin itu memiliki desain yang futuristik dan ramping. Dengan ukuran sebesar bola kasti berbentuk kotak, mesin ini sangat mudah untuk dibawa. Permukaan luarnya terbuat dari material metalik berwarna perak yang berkilau, dihiasi dengan pola geometris yang berkilau dalam warna-warna holografis, menciptakan efek visual yang menarik saat cahaya menyentuhnya.

Di bagian tengah mesin, terdapat sebuah lubang bulat, dikelilingi oleh lampu LED berwarna biru dan hijau yang berada didalam lapisan. Di sekeliling tepi mesin, terdapat beberapa tombol kontrol berbentuk bulat, masing-masing dengan simbol-simbol berbeda yang menggambarkan fungsi tertentu.

Di bagian bawah mesin, terdapat kaki penyangga kecil yang membuatnya stabil saat diletakkan. Namun, mesin ini cukup ringan untuk diangkat. Di bagian belakang mesin, terlihat beberapa port dan konektor yang menunjukkan adanya kemungkinan untuk menghubungkan perangkat lain atau sumber daya eksternal.

Tangan Lala sedikit bergetar, memperhatikan mesin ciptaan ayahnya, yang dapat membuatnya pulang ke dunianya. Dengan segera, dia mengeluarkan cincin yang tergantung sebagai liontin di lehernya. Cincin itulah yang memungkinkan Lynx mengenalinya saat mereka bertanding sebelumnya. Lynx menggunakan mata tembus pandangnya untuk memperhatikan ciri-ciri Lala dan merasa yakin jika wanita didepannya adalah Lala setelah melihat cincin yang pernah dibawanya.

Dengan ragu, Lala menggenggam mesin yang diberikan Lynx di tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih erat memegang cincin tersebut. Dia lalu menatap Lynx, seolah meminta pendapat.

Namun, Lynx hanya mengangkat bahu, menandakan bahwa ia tidak bisa memberikan komentar apa pun.

Jelita, yang tidak memahami situasi, segera bertanya, "Benda apa itu, Lala? Kenapa aku belum pernah melihatnya sebelumnya?"

"Ini adalah prototipe perangkat mesin dimensi milik ayahku. Alat ini dapat mengaktifkan satelit di dunia kami dan membuka portal menuju dimensi tempatku berasal. Dengan alat ini, aku bisa kembali ke duniaku. Namun, ayahku pernah berpesan bahwa alat ini hanya bisa digunakan satu kali, dan hanya mampu mengirimkan satu orang saja," jawab Lala dengan suara sedikit bergetar. Kenangan tentang kakeknya, Mochi, muncul di benaknya. Awalnya, ia berharap bisa kembali bersama kakeknya. Namun, setelah kematian kakeknya, ia merasa kehilangan tujuan untuk kembali.

Jelita tidak sepenuhnya memahami perasaan Lala, tetapi melihat kesedihan di matanya, ia mendekati Lala dan menepuk pundaknya, berusaha menenangkannya.

"Terima kasih, Jelita," ucap Lala pelan. "Aku tidak tahu apakah alat ini masih berfungsi. Sudah lama alat ini berada di tangan Suku Monrest. Mungkin saja mereka telah merusaknya." Ia lalu menyerahkan benda itu kembali kepada Lynx.

"Kamu tidak ingin mencobanya?" tanya Lynx sambil menerima benda tersebut.

"Alat ini hanya bisa dipakai sekali, dan aku belum siap untuk kembali ke tempat itu," jawab Lala.

"Lala, bukankah kamu pernah bilang bahwa duniamu penuh dengan alat-alat ajaib? Tidak bisakah kamu pergi ke sana, lalu kembali dengan membawa sesuatu yang dapat membantu kita menemukan rekan-rekan kita?" tanya Jelita, mengingat cerita yang pernah diceritakan Lala kepada mereka di pulau sebelumnya.

Lala terdiam sejenak, lalu matanya membelalak. "Kamu benar, Jelita! Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu?" katanya sambil tertawa kecil dan mengambil kembali benda dari tangan Lynx.

"Benda ini memang hanya bisa mengangkut satu orang, tapi setelah sampai di sana, aku bisa menggunakan teknologi yang ada untuk kembali ke sini! Kenapa aku tidak memikirkan solusi sesederhana ini?"

Lynx tertawa. "Terkadang orang jenius berpikir terlalu jauh, sehingga butuh orang biasa untuk mengingatkan mereka."

"Ya, ya, aku tidak mau berdebat denganmu kali ini," kata Lala dengan nada bercanda. "Aku akan mencobanya sekarang."

Lala lalu memasukkan cincinnya ke dalam sebuah lubang kecil di tengah alat tersebut, yang berbentuk persis seperti cincinnya. Seketika, benda itu mulai bergetar, lalu memancarkan cahaya redup. Namun, hanya sesaat kemudian, semuanya kembali hening.

Lynx dan Jelita menatap benda itu dalam diam. Tidak ada reaksi lebih lanjut.

"Lala, apakah mesin ini masih berfungsi?" tanya Lynx.

Lala memeriksa alat itu dengan saksama, lalu menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Sepertinya energi alat ini sudah habis. Mungkin saat di pulau itu, daya baterainya terkuras hingga tidak dapat digunakan lagi."

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Lynx.

Lala menyerahkan kembali alat tersebut kepada Lynx. "Aku akan memeriksanya nanti. Untuk sementara, titipkan dulu padamu. Aku lihat kamu memiliki cincin penyimpanan, jadi bisa menyimpannya dengan aman, bukan?"

Lynx mengangguk, lalu memasukkan benda itu ke dalam cincin penyimpanannya.

Lala kemudian menatap Lynx dengan rasa ingin tahu. "Ngomong-ngomong, Lynx... ranah kultivasimu sebenarnya ada di tingkat apa? Aku tahu sekarang kau hanya terlihat berada di Forging Qi tingkat dua, tapi aku tahu, kau bisa melawan Leluhur Monrest yang sangat kuat dan seekor naga yang jauh lebih kuat dari apapun yang pernah aku lihat. Aku yakin tak mungkin kau hanya di level Grandmaster. Mungkinkah kamu di tingkat immortal?" 

Lynx tertawa kecil sebelum menjawab dengan santai, "Ternyata kamu sudah sangat memahami dunia ini hingga tahu tingkatan kultivasi. Aku tidak ingin terdengar sombong, tapi kurasa... kultivator yang bisa mengalahkanku belum lahir di dunia ini."  

Lala menatapnya kagum. Sejak awal bertemu, ia sudah tahu bahwa Lynx sangat kuat. Namun, yang membuatnya bangga adalah bagaimana Lynx tidak pernah menggunakan kekuatannya untuk menyakiti orang yang tidak bersalah.  

Setelah beberapa saat berpikir, Lala kemudian berkata, "Lynx, bagaimana kalau kau pergi ke Sekte Api Langit? Di sana, kau bisa sekalian membantu Arkha dan Kael yang sedang menjalankan misi mereka."

Lynx mempertimbangkannya sejenak. "Bukankah aku juga ingin menemui Ling Mei. Urusan diantara kita belum selesai. Aku juga tidak ingin dia beranggapan bahwa aku hanya menganggapnya sebagai Leena. Meski wajahnya terlihat sama, dia orang yang berbeda dan aku tidak boleh lepas tanggung jawab." Batinnya, sambil menghela napas. Dia merasa sangat bersalah terhadap Leena.

Lynx lalu mengangguk. "Ide yang bagus. Jelita, aku ingin kau tetap bersama Lala sementara aku pergi ke sana." 

Jelita yang memahami bahwa tujuan Lynx penuh dengan bahaya dan dirinya hanyalah beban, segera menganggukkan kepala."Baiklah Lynx, aku akan membantu Lala disini."


Namun, sebelum Lynx beranjak, Lala tiba-tiba mendekat dan menarik tangan Lynx agar menjauh lalu berbisik, memastikan agar Jelita tidak mendengar. "Lynx, kalian sudah bersama selama tiga tahun... jangan bilang kau sudah mengkhianati Leena."

Wajah Lynx seketika berubah. Ini adalah topik yang paling ia hindari. "Aku tidak pernah berbuat macam-macam!" katanya cepat.  

Lala hanya terkekeh. "Oh, sungguh? Aku tidak percaya. Aku mengerti, pria sepertimu wajar memiliki banyak pasangan. Apalagi di dunia ini, aku melihat para pria yang berkuasa memiliki banyak istri demi memperbesar kekuatan dan pengaruh mereka."  

Lynx tetap menyangkalnya. "Aku dididik sejak kecil oleh orang tuaku untuk menghargai kebaikan dan kesetiaan. Jadi sebisa mungkin, aku tidak akan mengkhianati Leena."  

Namun, ada keraguan dalam suaranya saat ia mengingat kejadian yang dialaminya bersama Ling Mei. Lala menangkap ekspresi itu dan langsung salah paham, berpikir bahwa Lynx memang telah memiliki hubungan intim dengan Jelita. Ia hanya tertawa kecil, tidak ingin menggali lebih dalam, sementara Lynx merasa semakin tidak nyaman.

***
Di sebuah ruangan canggih yang terletak dalam dimensi lain, suasana dipenuhi dengan teknologi yang berkilau. Dinding-dindingnya dilapisi layar holografis yang menampilkan data dan peta kompleks. Di tengah ruangan, seorang profesor mengenakan jas lab, tampak sangat terfokus pada konsol besar di hadapannya. Rambutnya yang pendek dan acak-acakan, bersama dengan kacamata yang terpasang di hidungnya, menambah kesan ketekunan yang mendalam.

Tiba-tiba, matanya menyala saat salah satu layar menunjukkan sinyal yang jelas berasal dari dimensi lain. 

Segera dia memeriksa asal sinyal tersebut dan berteriak gembira  “Ini dia!” serunya, suaranya dipenuhi kegembiraan. “Sinyal ini... Pasti berasal dari perangkat milik profesor Milo!”

Dengan cepat, profesor itu menghubungi atasannya melalui interkom, suara nya bergetar penuh semangat. “Dokter Zhang, saya telah menemukan sesuatu yang sangat penting! Kami menemukan sinyal yang berusaha mengakses ke salah satu satelit kita. Aku sudah memeriksanya dan yakin sinyal ini berasal dari perangkat yang kemungkinan besar terkait dengan profesor Milo.”

"Kerja bagus. Kita sudah kehilangan jejak informasi rombongan pasukan Kane. Aku akan melaporkan hal ini segera."